Narasi

Mural : “Semangat Melawan Regresi Demokrasi”

Kabar Pemuda – Mural : “Semangat Melawan Regresi Demokrasi”

Mural memiliki tempatnya sendiri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan catatan dari Historia, sejarawan Harry A. Poeze dalam bukunya Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, menyebutkan bahwa pada awal september 1945 Ahmad Subardjo meminta nasihat kepada Tan Malaka agar melakukan propaganda melalui semboyan-semboyan yang kemudian dilukiskan oleh para pemuda di tembok-tembok.

Slogan-slogan berisi “Pemerintah dari Raykat, untuk Rakyat, dan oleh Rakyat” hingga “Hands of Indonesia!” digaungkan dalam bentuk mural untuk menggalakkan moral, semangat juang, dan menyerukan perlawanan mati-matian terhadap musuh.

Kini setelah 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, di tengah-tengah pandemi dan maraknya dislokasi sosial yang mengikutinya, wacana soal mural/graffiti sebagai medium untuk mengartikulasikan aspirasi politik kepada negara kembali menjadi sebuah privalensi.

Sayangnya, mural dan pembuatnya yang dahulu memiliki andil penting bagi kemerdekaan Indonesia justru sekarang menjadi target represi Pemerintah Indonesia. Mengapa represi, baik yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda maupun Pemerintah Indonesia, terhadap mural politik terjadi ? Bagaimana strategi komunitas mural dan secara umum masyarakat sipil pro-demokrasi menyikapi represi terhadap mural tersebut? Bagaimana masyarakat sipil pro-demokrasi menyikapi respon pemerintah yang cenderung akomodatif terhadap mural politis seperti yang dilakukan Gibran Rakabuming di Solo ?

POLDA Sumut Limpahkan Berkas Kasus Korupsi Mantan Bupati Labura ke Kejati Sumut

Next article

Comments

Comments are closed.